Selasa, Desember 29, 2009

ALIRAN FILSAFAT RASIONALISME


Usaha manusia untuk memberi kepada akal manusia suatu kedudukan yang “berdiri sendiri”, sebagaimana yang telah dirintis oleh para pemikir “Renaissans” berlanjut terus sampai abad ke-17. abad ke-17 merupakan abad dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakun lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, sehingga tampaklah adanya keyakinan bahwa dengan kemampuan akal itu pasti dapat diterangkan segala macam permasalahan, dan dapat diecahkanya segala macam masalah kemanusiaan.

Akibat dari keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal itu, dinyatakanlah perang terhadap mereka yang malas menggunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap tata susila yang bersifat tradisi, terhadap apa saja yang tidak masuk akal, dan terhadap keyakinan-keyakinan dan anggapan-anggapan yang tidak masuk akal1( epping dkk., 1977, h 229, filsafat E.N.S.I.E).

Dengan berkuasanya akal ini, orang mengharapkan akan lahirnya dunia baru yang lebih sempurna, suatu dunia baru yang dipimpin oleh akal manusia yang sehat. Kepercayaan terhadap akal ini terutama terlihat dalam lapangan filsafat, yaitu dalam bentuk suatu keinginan untuk menyusun secara “a priori” suatu sistem keputusan akal yang luas dan bertingkat tinggi. Corak berfikir yang hanya selalu mengandalkan atau berdasarkan atas kemampuan akal (rasio), dalam filsafat dikenal dengan nama aliran “rasionalisme”.

Aliran filsafat rasionalisme ini berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya hanyalah akal. Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akallah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan harus mutlak, yaitu syarat yang dituntut oleh semua pengetahuan ilmiah. Sedangkan pengalaman hanya dapat dipakai untuk mengukuhkan kebenaran pengetahuan yang telah diperoleh melalui akal. Menurut aliran ini akal tidak memerlukan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan yang benar, karena akal dapat menurunkan kebenaran itu dari dirinya sendiri. Metode yang digunakan oleh para filosuf rasionalisme ini adalah metode deduktif, seperti yang berlaku pada ilmu pasti.

Secara ringkas dapatlah kita kemukakan bahwa ada dua hal pokok yang merupakan ciri dari bentuk rasionalisme, yaitu :

1. Adanya pendirian bahwa kebenaran-kebenaran yang hakiki itu secara langsung dapat diperoleh dengan menggunakan akal sebagai sarananya

2. Adanya suatu penjabaran secara logik atau deduksi yang dimaksudkan untuk memberikan pembuktian secara seketat mungkin mengenai lain-lain segi dari seluruh sisa bidang pengetahuan berdasarkan atas apa yang dianggap sebagi kebenaran-kebenaran hakiki tersebut diatas.2(nuchelmans, 1984, h 104 filsafat pengetahuan dalam berfikir secara kefilsafatan)

Tokoh-tokoh aliran filsafat rasionalisme ini ialah Descartes, Spinoza, Leibniz. Merekalah yang merupakan tokoh-tokoh filsafat aliran rasionalisme

Tokoh penting aliran rasionalisme ini adalah Rene Descartes (1598-1650) yang juga adalah pendiri filsafat modern. I pantas untuk mendapat kedudukan itu dengan alasan :

1. Karena usaha mencari satu-satunya metode dalam seluruh cabang penyelidikan manusia.

2. Karena dia memperkenalkan dalam filsafat, terutama tentang penelitian dan konsep dalam filsafat yang menjadi prinsip dasar dalam perkembangan filsafat modern.3 ( scruton, 1986, h 31, sejarah singkat filsafat modern)

Metode Descartes dimaksudkan bukan saja sebagai metode penelitian ilmiah, ataupun penelitian filsafat, melainkan sebagai penelitian rasional mana saja, sebab akal budi manusia selalu sama.4( bakker, 1984, h 71-72, filsafat sejarah sistematik)

Descartes memulai metodenya dengan meragu-ragukan segala macam pernyataan kecuali pada satu pernyataan saja, yaitu bahwa ia sedang melakukan keragu-raguan5 (Descartes, 1995, h 34, risalah tentang metode) sendiri menegaskan bahwa ia dapat saja meragukan segala hal, namun satu hal yang tidak mungkin diragukanya adalah kegiatan meragu-ragukan itu sendiri. Maka ia sampai pada kebenaran yang tidak terbantahkan, yakni saya berfikir, maka saya ada (Cogito ergo sum). Pernyatan ini begitu kokoh dan menyakinkan , sehingga anggapan kaum skeptik(kaum ragu-ragu) yang paling ekstrim pun tidaka akan mmpu menggoyahkannya. Cogito ergo sum ini oleh Descartes diterima sebagai prinsip pertama dari filsafat.

Bagi Descartes pernyataan “saya berfikir, maka saya ada” adalah terang dan jelas bagi akal pikiran manusia dapatlah dipakai sebagai dasar yang tidak perlu dibuktikan lagi kebenaranya untuk melakukan penjabaran terhadap pernyataan-pernyataan yang lain.6 ( nuchelmans, 1984, h 105, filsafat pengetahuan dalam berfikir secara kefilsafatan) Segenap ilmu pengetahuan haruslah didasarkan atas kepastian-kepastian yang tidak dapat diragukan lagi akan kebenaranya yang secara langsung dilihat oleh akal pikiran manusia. Metode ini dinamakan juga metode apriori yang secara harafiah berarti berdasarkan atas hal-hal yang adanya mendahului. Dengan metode apriori ini kita seakan-akan sudah mengetahui segala hal secara pasti, meskipun kita belum mempunyai pengalaman indrawi mengenai hal-hal yang kemudian tampak sebagai gejala-gejala itu.

Sistim filsafat yang dikembangkan Descartes tak dapat dipisahkan dari sikap kritik yang berkembang dalam pergolakan renaissan, kebangkitan budaya yang sekaligus membawa suatu skeptisisme terhadap dogma agama dan praktek politik yang sampai saat ini menjamin ketahanan status gereja dan negara. Skeptisisme ini meluas menjiwai Descartes yang dengan konsekuen meragukan pengetahuan yang kita peroleh secara inderawi. Tetapi kemudian metode keraguan ini akhirnya dapat menumbangkan skeptisisme yang berkelanjutan (ekstrim), karena menemukan suatu landasan kebenaran baru.7( toeti herati, 1984, h 41, aku dalam budaya)

Aliran rasionalisme ini juga memandang bahwa budi atau rasio sebagai sumber dan pangkal dari segala pengertian dan pengtahuan, dan budilah yang memegang tumpuk pimpinan dalam segala bentuk “mengerti”. Kedaulatan rasio diakui sepenuhnya, yang sama sekali menyisihkan pengetahuan indra. Sebab pengetahuan indrawi hanya menyesatkan saja. Dengan menggunakan keraguan lagi bahwa rasionalisme menegaskan, bahwamereka(rasionalisme) ingin mencapai kepastian. Jika orang ragu-ragu, maka tampaklah ia sedang berfikir, dan juga tampak dengan segera adanya sebab berfikir itu. Oleh karena ituy, dari keraguan ini munculah kepastian-kepastian tentang adanya sendiri.8(suparlan suhartono Ph.D 2007 hal 104, dasar-dasar filsafat)

RASIONALISME




Disusun oleh :

Riska yuni Prihatin (07410009)

Alif Kurnia Ramadhan (07410010)

Syahdara Anisa Ma’ruf (07410013)

Zalik Nuryana (07410015)

Nia Indah Eka S (07410016)

Prawidya Lestari (07410017)

Muhammad Affani (07410060)

JURUSAN PEDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALI JAGA YOGYAKARTA 2007

KESIMPULAN

Usaha manusia untuk memberi kepada akal manusia suatu kedudukan yang “berdiri sendiri”, sebagaimana yang telah dirintis oleh para pemikir “Renaissans” berlanjut terus sampai abad ke-17. abad ke-17 merupakan abad dimulainya pemikiran-pemikiran kefilsafatan dalam artian yang sebenarnya. Semakun lama manusia semakin menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan akal, sehingga tampaklah adanya keyakinan bahwa dengan kemampuan akal itu pasti dapat diterangkan segala macam permasalahan, dan dapat diecahkanya segala macam masalah kemanusiaan.

Akibat dari keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal itu, dinyatakanlah perang terhadap mereka yang malas menggunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap tata susila yang bersifat tradisi, terhadap apa saja yang tidak masuk akal, dan terhadap keyakinan-keyakinan dan anggapan-anggapan yang tidak masuk akal.

Descartes memulai metodenya dengan meragu-ragukan segala macam pernyataan kecuali pada satu pernyataan saja, yaitu bahwa ia sedang melakukan keragu-raguan sendiri menegaskan bahwa ia dapat saja meragukan segala hal, namun satu hal yang tidak mungkin diragukanya adalah kegiatan meragu-ragukan itu sendiri. Maka ia sampai pada kebenaran yang tidak terbantahkan, yakni saya berfikir, maka saya ada (Cogito ergo sum). Pernyatan ini begitu kokoh dan menyakinkan , sehingga anggapan kaum skeptik(kaum ragu-ragu) yang paling ekstrim pun tidaka akan mmpu menggoyahkannya. Cogito ergo sum ini oleh Descartes diterima sebagai prinsip pertama dari filsafat.

Tidak ada komentar: