Selasa, Desember 29, 2009

TAFSIR SURAT AL-FATIHAH " Tafsir ibnu katsir"

PENDAHULUAN

Surat Al Faatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Al Quran dan termasuk golongan surat Makkiyyah. Surat ini disebut Al Faatihah (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Quran. Dinamakan Ummul Quran (induk Al Quran) atau Ummul Kitaab (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quran, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sembahyang.
Dinamakan pula As Sab'ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat.

TAFSIR SURAT AL-FATIHAH

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].

[1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

Ibnu abbas R.A. berkata, “adanya rosulullah saw. Tidak mengetahui selesainya surat sehingga turun bismillahirohmanirrohim”. (H.R. Abu daud, al-hakim)

Sahabat nabi selalu memulai bacaan kitab dengan membaca basmalah.

Imam Syafi’i dan Al-hakim meriwayatkan dari Anas r.a, bahwa mu’awiyah ketika sembahyng di madinah sebagai imam tidak membaca bismillahirohmanirrohim, maka ditegur oleh sahabat muhajirin yang hadir, kemudian ketika sembahyang lagi beliau membaca basmalah.

Adapun dalam madzhab imam malik tidak membaca basmalah berdasarkan hadits dari ‘Aisyah r.a, yang berkata :”biasa rosulullah saw memulai shalat dengan takbir dan bacaanya dengan alhamdulillahirobbil ‘alamin.

Dan sunat membaca basmalah pada setiap perkataan dan perbuatan, dan juga sunat ketika menyembelih binatang, juga sunat ketika makan, karena rosulullahbersabda : bacalah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat-dekat kepadamu”. Dan juga membaca basmalah ketika hendak berjima’.

Segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam[3].

[2] Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

[3] Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah).
'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. ALlah pencipta semua alam-alam itu.

Ibn jarir berkata,: Alhamdulillah, syukur yang ikhlas hanya kepada allah semata, tidak kepada yang lainya daripada makhluk-makhluknya, syukur itu karena nikmatnya yang diberikan kepada hamba dan makhluk-makhluknya yang tidak dapat terhitung dan tidak terbatas, seperti alat anggota manusia untuk menunaikan kewajiban taat kepadanya, disamping rizqi yang diberikan kepada semua makhluk manusia, jin, dan binatang dari berbagai perlengkapan hidup, karena itulah maka pujian itu sejak awal hingga akhirnya tetap pada Allah semata.

Alhamdulillah pujian Allah pada dirinya, yang mengandung tuntunan kepada hambanya supaya mereka memuji Allah seakan-akan perintah Allah,”bacalah olehmu alhamdulillah”.alhamdulillah pujian dengan lidah terhadap sifat-sifat pribadi, maupun sifat yang menjalar kepada orang lain, sebaliknya syukur itu pujian terhdap sifat yang menjalar, tetapi syukur dapat dilaksanakan dengan hati, lidah dan anggota badan.alhamdu berarti memuji sifat keberanian, kecerdasanNya atau karena pemberianNya.syukur khusus untuyk pemberianNya.

Jabir bin Abdullah berkata, rosul bersabda : “seutama-utama dzikir adalah “lailahailallah”, dan seutama-utamanya do’a adalah”Alahamdulillah”.

Sengaja Allah memulai kitabNya denagn kaimat alhamdulillah, untuk menuntun kepada hambaNya . jika sudah mengucap kedau kalimat syahadat, bahwa tiada tuhan selain allah, harus merasa bahwa segala puja dan puji hanya kepada allah semata, sebab Al dalam kalimat alhamdu brarti semua jenis puja dan puji bagi allah. Seperti ysng tersebut dalam hadits yang berarti “Ya Allah bagiMu segala puji semuanya, dan bagi Mu kerajan semuanya, dan di tanganMu kebaikan semuanya, dan kepadamu segala urusan semuanya”.

Rabb berarti yang berhak sepenuhnya, jiga berarti majikan, juga yang memelihara serta menjamin kebaikan dan perbaikan , dan semua makhluk alam semesta ini.

Alam ialah segala sesuatu selain Allah. Maka allah Rab dari semua alam itu sebagai pencipta, yang memelihara, memperbaiki dan menjamin. Sebagaimana tersebut dalam dalam surat Asyu’aro 23-24.

Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?"

Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya."

fir’aun bertanya, ” Apakah Robul ‘alamin itu?”, musa menjawab, ”Tuhan pencipta, pemelihara penjamin langit dan bumi dan apa saja diantara keduanya. Jika kalian mau percaya dan yaqin”.

Alam juga termasuk dalam tanda, sebab alam ini semua meninjukkan dan membuktiakan kepada orang yang memperhatikanya sebagai tanda adanya Allah tuhan yang menjadikanya.

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Ar-rahman yang memberi nikmat yang sebesar-besarnya.

Ar-rahim yang memberi nikmat yang halus sehingga tidak terasa, padahal nikmat itu besar, dan semua nikmat Allah itu besar , hanya saja ada yang berupa langit, bumi, matahari, dan ada yang berupa penglihatan, pendengaran, panca indra, dan lain sebagainya.

Abu huroiroh berkata, rosul bersabda, ”Andaikata orang mukmin mengetahui persediaan siksa Allah pasti takkan mengharap untuk dapat mencapai surganya. Demikian pula andaikan si kafir mengetahui besar nikmat rahmat Allah, takkan putus harpan dari rahmat seorangpun.(H.R muslim).

4. Yang menguasai[4] di Hari Pembalasan[5].

[4] Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.

[5] Yaumiddin (Hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya.

Dapat di baca malik: raja, dan Maaliki: pemilik-yang memiliki. Maaliki sesuai dengan surat maryam ayat: 40

Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan.

Sedangkan maliki sesuai dengan surat an-nas ayat 1-2

  1. Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia
  2. Raja manusia

Al-mu’min ayat 16 juga menegaskan

(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?" Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.

Ad-din (pembalasan dan perhitungan). Sesuai dalam surat as-shafat: 53

Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?"

Dan dalam hadits nabi bersabda : seorang yang sempurna akal ialah, yang mengadakan perhitungan pada dirinya dan beramal untuk sesudah mati.

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7].

[6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

[7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

Ibadat berarti, menurut dengan perasaan rendah diri, mengabdi merasa abadi, hamba yang patuh dengan tunduk.

Sedangkan ibadat menurut istilah agama, ialah menghimpun rasa kecintaan dan merendah serta takut.

Dalam kalimat ini sengaja didahulukan maf’ulnya yaitu iyyaka dan diulang untuk mendapatkan perhatian dan mengurung yang berarti: kami tiada mnyembah kecuali engkau, tidak berserah diri kecuali kepada-Mu.

Sebenarnya kesimpulan pengertian beragama itu hanya dalam dua kalimat ini, sehingga ulama-ulama dahulu mengatakan, “rahasia al-qur’an ada di dalam Fatihah dan rahasia fatihah ada dalam ayat ini, sebab yang pertama berarti bebas dari syirik dan yang ke dua merasa bebas dari daya dan kekuatan dan menyerah bulat pada Allah Ta’ala”. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Hud ayat 123 yang berbunyi :

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

Dan surat al-muzamil ayat 9 :

Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.

Adh-dahak dar ibnu abas berkata : iyakana’budu :”kepada-Mu kami menyembah mengesakan, takut, dan berharap, wahai tuhan ku tiada yang lain selain-Mu”.dan iya kansta’in : “kami minta tolong kepada-Mu untuk menjalankan tat dan untukmencapai semua hajat kepentinganku”.

Qotadah berkata : dalam ayat ini, Allah menyuruh supaya tulus ikhlas dalam melakukan ibadah kepada Allah dan supaya benar-benar mengharap bantuan pertolongan allah dalam segala urusa.

Karena ibadah itu suatu kedudukan yang luhur tinggi bagi seorang hamba Allah menyebut nama Muhammad SAW.pada ayat dalam surat al-isro’ dan surat al-kahfi ayat satu yang berbunyi :

Al-isro’:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Al-kahfi:

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;

6. Tunjukilah[8] kami jalan yang lurus,

Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

Shiraathal mustaqim, jalan yang lurus yang jelas dan tidak berliku-liku. Shiraathal mustaqim ialah, mengikuti tuntunan Allah, dan rasulullah . juga berarti kitab Allah, sebagaimana riwayat dari Ali yang mengatakan “Asshiratul mustaqiim kitabullah”.

Allah berfirman dalam surat an-nisa ayat 136,

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya

Dalam ayat ini orang mu’min diperinthksn untuk berimsn, yang mksudnya terus-menerus tetap imannya dan terus melakukan semua perintah dan menjauhi segala larangannya, jangan berhenti di tengah jalan, yakni istiqomah hingga mati.

7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Inilah yang dimaksud jalan yang lurus, yaitu yang dahulu sudah ditempuh oleh orang-orang yang mendapat ridho dan nikmat dara Allah ialah mereka yang disebut dalam surat an-nisa ayat 69 :

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin , orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Bukan jalan orang-orang dimurkai atas mereka, yaitu mereka yang telah mengetahui kebenaran hak dan tidak melaksanakannya seperti orang-orang yahudi, mereka telah mengetahui kitab Allah, tetapi tidak melaksanakanya, juga bukan jalan orang-orang yang sesat karena mereka tidak mengetahui.

Dan pada siapa yang membaca al-fatihah maka disunatkan untuk membaca/mengcapkan amin.

Abu huroiroh berkata, rosul saw bersabda, “jika imam membaca amin maka sambutlah (bacalah)amiin, maka barang siapa yang bertepatan bacaan aminya dengan malaikat maka diampunkan baginya dosa-dosa yng telah lalu’.(H.R bukhori muslim)

Abu musa meriwayatkan rasul bersabda : jika imam membaca waladha dhalliin, maka bacalah amin niscayaAllah menerima dan menyambut kamu.(H.R muslim).

IBNU KATSIR

Beliau adalah Isma’il bin ‘amr al-quroisyi bin katsir al-basri, ad-dimasyki ‘maduddin abul fida’ al-hafiz al-muhadis asy syafi’i.

Lahi pada tahun 705 dan wafat pada tahun 774 H. Beliau adalah seorang yang ahli hadits yang faqih, ahli hadits, ahli sejarah, dan musafir yang handal.

Ibnu hajar mejelaskan : ia (ibnu katsir) adalah seorang ahli hadits yang faqih. Karangan-karanganya tersebar di seluruh berbagai negeri semasa hidupnya , dan dimanfaatkan oleh orang banyak setelah ia wafat

Karangan-karanganya

  1. Al bidayah wan nihayah, bidang sejarah
  2. Al kawakibud darari, bidang sejarah
  3. Tafsirul qur’an al ijtihad fi tholibil jihad
  4. Jami’ul masanid as sunanul hadi li aqwami sunan
  5. Al wadihunnafis fil manaqibil imam muhammad ibn idris

Tafsirnya

Tafsir ibnu katsir merupakan kitap tafsir paling mashur, diantar keistimewaany adalah :

  1. menjauhi pembahasan i’rob dan cabang-cabang balaghoh dalam menafsirkan ayat
  2. mengutamakan tafsir qur’an bil qur’an
  3. menyertakan peringatan akan cerita-cerita isroiliyat yang tertolak(munkar) yang banyak tersebar, baik peringatan yang masih global maupun yang mendetail

Tidak ada komentar: